Pengantar :

Tulisan ini saya sunting dari web blog :http://echopedian.blogspot.com

Sebagai rumpun Melayu,  etnis etnis Rhade sangat mirip dengan etnis Minangkabau. Satu hal yang membuat sebuah etnis menjadi sama apabila : tata cara – sistem kekerabatan dan kuliner diantara kedua sama. Setelah  menelusuri etnis Rahde, ternyata adat istiadat mereka ” Rhade ” hampir mirip dengan Minangkabaua. Silahkan membaca selanjutnya.

 

Etnis Rhade (1923)
 Etnis Rhade merupakan sebuah etnis di selatan Negara Vietnam. Etnis yang bepopulasi sekitar331,194 juwa ini (sensus 2009) memiliki banyak kesamaan dengan etnis Minangkabau di Sumatra Barat. Diantaranya adalah sisitem kekerabatan etnis Rhade memakai sistem Matrilineal, dengan demikian anak yang lahir mendapat suku dari ibu.

 

Anak Dara etnis Rhade oleh Denise Colomb    

Laki-Laki yang sudah menikah tinggal di Rumah Perempuan yang disebut dengan Rumah Panjang. Rumah panjang ini terbuat dari Kayu dan Bambu. Sebuah rumah Panjang ditempati oleh tiga hingga sembilan keluarga. 

Rumah Panjang etnis Rhade
Ornamen di Rumah Panjang


Properti Keluarga/pusaka tinggi seperti sawah, ternak, gong, bonang dan guci dipegang oleh perempuan tertua dari garis keturunan tersebut. Pelanggaran adat oleh Orang Rhade akan diberi denda dengan seekor kerbau. 

Alat musik tradisional Etnis Rhade

Kendati berada di Negara Vietnam, bahasa Etnis Rhade tidaklah termasuk kedalam rumpun bahasa Vietic, melainkan kedalam bahasa Malayo-Polynesian.

 

Tradisi bermain musik sambil membawakan kaba (epos). tuoitre.vn

 

Tradisi menenun Ernis Rhade. thocam.com

 

Makanan tradisional etnis Rhade (Sejenis Lemang)


 

Tradisi makan bajamba Etnis Rhade

Apakah etnis ini merupakan Nenek moyang orang minang atau malah sebaliknya? mengingat orang minang terkenal dengan tradisi merantaunya dan dipekuat dengan peryataan Putri Saadong yang mengungkapkan bahwa banyak orang Minangkabau yang menjadi tokoh penting di dalam kerajaan Pattani, Thailand. Wallahualam. 

Iklan

Tugas Pokok dan Fungsi Urang Ampek Jinih

 

Hifni Hafida

GambarApa yang dimaksud dengan ” urang nan ampek jinih ” ?. Adalah struktur kepemimpinan kolektif  adat Minangkabau yang berkedudukan disetiap Kaum atau Nagari. Dalam rangka menyeragamkan pakaian adat harian (PAH) bagi penyandang jabatan ” urang ampek Jinih, sesuai dengan identitas kultur Minangkabau, maka telah terbitkan Pedoman Pakaian Adat (PAH) Urang Ampek Jinih dalam rangka penguatan Syariat ” Adat Basandi Syarak – Syarak Basandi Kitabullah (ABS – SBK) di Ranah Minang. Pedoman ini diterbitkan oleh LKAAM Sumbar, yang ditetapkan oleh Ketua Umum Pucuk Pimpinan LKAAM Sumbar. Disetujui oleh Ketua MUI Sumbar dan diketahui oleh Gubernur Sumbar 2012. Jadi lengkap sudah pemberlakuannya dan secara menyeluruh berlaku di Ranah Minang dan rantau. 

Siapa saja yang disebut Urang Ampek Jinih ? Mereka adalah empat pemangku adat yaitu Pangulu, Manti, Dubalang dan Malin. Sedangkan Urang Jinih Nan Ampek adalah orang yang memangku jabatan syara’ meliputi Imam, Khatib. Bilal dan khadi.

Menurut LKAAM Sumbar, terkait tupoksi bagi Urang Ampek Jinih adalah sebagai berikut

1. PANGULU 

a. Bertanggungjawab ke luar dan ke dalam suku dan atau kampuang dalam memimpin anak kemenakan 

b. Karana kato pangulu kato pusako tagak di pintu bana, maka pangulu bertugas menghukum adia bakato bana

c. Berfungsi mengkondisikan dan mengkonsultasikan segala hal yang akan diambil keputusan kepada seluruh perangkat suku dan atau kampuang.

d. Berwenang menunjuk perangkatnya dalam melaksanakan tugas pokokdan fungsinya

e. Manuruik labuah nan luruih, maikuik kato nan bana, mamaliharo anak kamanakan, dan manjago harato pusako 

2. MANTI 

a. Bertanggungjawab membantu penghulu di bidang kesekretariatan dan administrasi adat secara internal kampuang dan atau suku sesuai titah penghulu 

b. Karanao kato manti kato mufakat atau kato pangubuang tagak di pintu susah, maka manti bertugas mengkomunikasikan dan menginformasikan segala keputusan atau kesepakatan yang telah diambil kepada anak kemenakan secara bertanggo turun 

c. Berfungsi mencatat seluruh anak kemenakan baik yang di kampuang maupun yang di rantau pada buku induk suku (BIS). Dipercaya memeungut PBB terhadap anak dan kemenakan 

d. Membuat ranji paruik dalam kampuang secara benar dan jujur, disetujui mamak kepala waris dan mamak kepala kaum dan diketahui oleh KAN 

3. DUBALANG 

a. Bertanggung jawab kepada penghulu di bidang keamanan dan ketertiban yang ditetapkan oleh penghulu 

b. Karena kato dubalang kato mandareh tagak di pintu mati, maka dubalang berfungsi menciptakan ketertiban, kedamaian dan keamanan dalam kampuang 

c. Walaupun dubalang memakai prinsip nan kareh ditakiak nan lunak disudu, tetapi selalu memakai prinsip santun dalam berbahasa dan sopan dalam bertindak 

d. Membuat pertimbangan laternatif untuk mengangkat dan atau memperhentikan perangkat kampuang melalui urang tuo untuk diputuskan oleh penghulu kampuang 

4. MALIN 

a. Bertanggungjawab kepada penghulu di bidang keagamaan dan kesejahteraan anak kemenakan sesuai dengan firman Allah dan sunnah rasul 

b. Karena ia bertanggung jawab dunia akhirat, maka ia bertugas merencanakan kegiatan untuk anak kemenakan agar pandai shalat jo mangaji, pandai sekolah jo babudi 

c. Berfungsi mengkoordinir dan mencatat anak kemenakan yang membayar zakat, infak dan sedekah sesuai dengan ketentuan yang berlaku 

d. Berfungsi menegakkan dan mengamalkan ajaran adat basandi syara’ syara’basandikitabullah syara’ mangatoadatmamakai alam takambang jadi guru untuk diamalkan oleh anak kemenakan

 

Menyoal Asal Nenek Moyang penduduk Minangkabau

Pengantar  dari Padusi :

Tulisan Bapak Aswil Nazir ini patut saya angkat. Sebagai hasil pencarian beliau tentang asal usul nenek moyang etnis Minangkabau. Beliau bukan seorang sejarawan melainkan adalah seorang pakar teknologi informatika. Aswil Nazir sangat peduli dengan kehidupan etnisnya sehingga jadilah ia seorang pemerhati adat. 

Salam 

Padusi

Baca lebih lanjut…

Alam takambang jadi guru

Kali ini saya tidak mengupas filosofi alam takambang jadi guru. Melalinkan sesuatu yang disimbolkan dalam karya seni. Saya mengambilnya dari halaman ‘ UKIRAN MINANGKABAU “. Paparannya seperti tertera dibawah ini.

Alam Takambang Jadi Guru

By ZODIO MEKER

 

Ukiran tradisional Minangkabau, motifnya diambilkan dari keadaan alam sekitarnya (flora dan fauna), dan adapula diantaranya yang mengambil motif bentuk makanan seperti saik galamai, belah ketupat, dan ampiang taserak. Pepatah menyebutkan:

 

Panakiak pisau sirauik, _________Penukik pisau siraut,

ambiak galah batang lintabuang, __ambil galah batang lintabung,

salodang ambiak ka niru, ________salodang ambil untuk nyiru,

satitiak jadikan lauik, ___________setitik jadikan laut,

nan sakapa jadikan gunuang, ____yang sekepal jadikan gunung,

alam takambang jadikan guru  ___alam takambang jadikan guru.

 

Bentuk-bentuk alam yang dijadikan motif ukiran di Minangkabau tidaklah diungkapkan secara realistis atau naturalis tetapi bentuk tersebut digayakan (distilasi) sedemikian rupa sehingga menjadi motif-motif yang dekoratif sehingga kadang-kadang sukar untuk dikenali sesuai dengan nama motifnya.

 

Hal tersebut terjadi setelah berkembangnya agama Islam di Minangkabau. Beberapa ahli berpendapat bahwa seni ukir di Minangkabau pada mulanya dimulai dari corak yang realistis. Hal ini masih dapat dilihat pada hiasan ukiran yang terdapat pada menhir atau nisan yang terdapat di beberapa daerah di Kabupaten 50 Kota yang bermotifkan ular, burung dengan makna simbolisnya. Sedangkan pada seni ukir tradisional Minangkabau motif-motif realis ini sudah tidak ada lagi karena pada umumnya masyarakat Minangkabau memeluk agama Islam.

 

 

Pada motif ukir Minangkabau terdapat galuang/ relung dan ragam. Galuang/ relung yaitu berupa lingkaran yang sambung-bersambung sehingga membentuk relung kearah pusat lingkaran atau ke luar lingkaran. Pada relung tersebut terdapatlah gagang, daun, bunga, dan sapieh (serpih). 

harapanku kepada bumi minang

Oleh  Ust. Abu Sangkan

Ketika sepulang dari Darmasraya Sumatera Barat, hampir sampai di Indarung sekitar 15 km,  ada Truk melintang dan menghalangi jalan di depan kami. disebabkan ban nya meletus tertusuk besi beton, sehingga arus lalu lintas dari dua arah tertutup total.

Sambil menunggu perbaikan selama berjam-jam, rombongan mampir dulu di warung kopi untuk menghangatkan badan dari udara pegunungan.  Aku bilang kepada bu linda (isteri ustad,pen) : ”  pasti ada rahasia Allah yg sangat besar buat kita Nduk. Nggak mungkin Allah merencanakan macet selama ini kalau hanya disuruh beli kerupuk dan kopi ke tukang warung ini.

“  Coba kamu perhatikan, berapa KM panjang antrian mobil dari dua arah, padahal tempat kita menginap tinggal 15 km lagi.

“ Allah tiba-tiba mentakdirkan ban truk itu pecah.

Kita semua kumpul di warung ini. Terdiri  Pak Rizaldi, pak wid, pak Adi, pak daus, pak marzen dan mas udik. Kami mengobrol perkembangan shalat khusyu’ doeloe dan sekarang di bumi Minang !!.

Dulu SC Padang pernah menjadi percontohan dakwah shalat khusyu’ di indonesia. Karena mampu menembus ke pelosok desa terpencil, daerah transmigrasi.<br />Waktu itu kita bangga SC Padang sudah punya mobil operasional tertulis Shalat Center Sumatra Barat.

Minangkabau pernah jaya. Tetapi setelah ditinggal oleh para tokohnya yang mulai sangat sibuk, shalat khusyu semakin lenyap di bumi minang, Setelah itu muncul peristiwa gempa, sehingga semakin hilang shalat khusyu’ di bumi minang secara manajemen, meskipun secara pribadi masih masyarakatnya masih aktif.
Baca lebih lanjut…

Adat Minangkabau Bersifat Supra Sistem

ImageAdat Minangkabau bersifat Supra System, akan menjelaskan konsep kepemilikan harta pusaka di Minangkabau sebagaimana tergambar dalam  istilah “ jua ndak dimakan bali, gadai ndak makan sando ”, yang ditetapkan  dalam pengaturan tanah ulayat demi mempertahankan pusaka tinggi masyarakat hukum adat. Berangkat dari pemikiran demikian, saya mempertanyakan apakah pengaturan harta ini sama dengan sistem yang dianut oleh negara-negara sosialis ?

PERDA No. 6 Tahun 2008 (Sumbar), menyatakan bahwa tanah ulayat bersifat tetap berdasarkan filosofi adat Minangkabau  “ jua indak makan bali, gadai ndak makan sando ”. Tanah ulayat meliputi tanah ulayat nagari, ulayat suku, ulayat kaum, ulayat rajo, dan mungkin tanah-tanah yang berstatus ganggam nan bauntuak bagi kalangan padusi/perempuan di ranah Minangkabau

Mengamati perlindungan tanah ulayat di Sumatera Barat, semula saya bertanya, apakah tidak akan menyebabkan semakin sulitnya investor untuk menanamkan modalnya? Setiap pulang kampung, saya tidak melihat gerak pembangunan yang memadai di ranah Minang. Namun demikian, saya mendukung konsep jua ndak dimakan bali, gadai ndak makan sando, sebagai pengikat sistem kepemilikan tanah yang kokoh dan bertujuan untuk melindungi warganya. Artinya, meskipun tanah bisa dibeli tetapi tidak bisa dimiliki, apalagi jika digadaikan─jaminan. Tanah tidak berada dalam genggaman pemberi gadai.  Inilah konsep pertanahan yang paling ilahiah, karena tidak menimbulkan keserakahan bagi pihak-pihak yang ingin menguasai tanah dengan dalih yang bertentangan dengan aturan adat.  Disinilah keunggulan adat Minangkabau itu demi mempertahankan property keluarga, kaum, suku dan Nagari.

Dengan merujuk pada pendapat Ali Syariati (sosiolog Iran), saat kami mendiskusikannya di milist RantauNet,   Datuk Endang Pahlawan berupaya menjelaskan tentang situasi dan hubungan sosial yang terkait dengan perlindungan masyarakat. Datuk Endang Pahlawan mengutip buku Ali Syariati “ Tugas Cendekiawan Muslim”  yang diterjemahkan oleh Amien Rais, ada dua  profesi tertua di dunia yaitu bertani dan berburu, yang dapat disimplifikasi menjadi reproduksi dan ekstraksi. Di Minangkabau ada istilah manaruko (mengambil apa yang disediakan oleh alam) dan meramu (mengolah untuk mendapatkan hasil).  Baca lebih lanjut…

Peran Bako di Kampuang Kami

Oleh : Reni Sisriyanti

 

Betapa besar peran saudara Ayah atau Bako di kampuang kami. Bako , adalah sebutan untuk keluarga dari bapak.  Siapa yang  mengatakan mereka tidak ada perannya ?  Semenjak lahir sampai saat nanti kita dikuburkan – kita tidak akan luput dari peran bako ini. Berikut ini catatan saya mengenai peran bako itu : Baca lebih lanjut…